SAMUDERAKEPRI, JAKARTA — Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyelenggarakan jamuan santap malam resmi untuk menyambut Perdana Menteri (PM) Kerajaan Thailand, Anutin Charnvirakul, di Istana Negara, Jakarta, pada Senin (3/8/2026) malam. Acara kenegaraan yang diselimuti nuansa kebudayaan Nusantara tersebut menjadi momen penutup dari seluruh rangkaian kunjungan resmi PM Anutin di Indonesia usai menggelar pertemuan bilateral di Istana Merdeka.
Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menyampaikan apresiasi tinggi atas kedatangan PM Anutin beserta jajaran delegasi. Ia menegaskan bahwa kemitraan dan ikatan persahabatan yang harmonis antara Indonesia dan Thailand perlu terus ditingkatkan guna memperkuat kesejahteraan masyarakat kedua negara serta memperkokoh kebersamaan sebagai bagian dari keluarga besar ASEAN.
- Jamu PM Thailand Anutin Charnvirakul di Istana, Presiden Prabowo Perkuat Diplomasi Budaya
- Evakuasi Korban KMP Mutiara Sentosa 2, Ditpolairud Polda Jatim Terjunkan Kapal Cepat dan Almatsus
- Proyeksi Ekonomi Naik 7,4 Persen, Pemko Batam Usul Target Pendapatan Rp4,25 Triliun
- Sweeping Pajak Kendaraan ASN di Dompak Terjaring 212 Unit, Potensi Pajak Tembus Rp916 Juta
- Ukir Prestasi di Malaysia, Anggota Korps Brimob Polri Raih Perunggu dan Perak Kejuaraan Taekwondo
Sementara itu, PM Thailand Anutin Charnvirakul menyampaikan terima kasih mendalam atas apresiasi dan keramahan yang diterimanya selama kunjungan resminya ke Indonesia. Anutin menyoroti kesamaan akar budaya, seni, musik, sastra, hingga kuliner yang selama ini telah membingkai hubungan historis kedua negara. Ia meyakini bahwa adopsi Peta Jalan Kemitraan Strategis Tailan–Indonesia yang disepakati pada hari itu akan membawa kerja sama bilateral ke tingkat yang lebih tinggi.
Kehangatan santap malam resmi tersebut kian semarak dengan sajian aneka kuliner khas Nusantara serta pertunjukan seni budaya Indonesia, meliputi Tari Tanggai asal Palembang (Sumatera Selatan), pertunjukan wayang kulit, dan tari kreasi berlatar kisah Ramayana. Momen ini tidak sekadar menutup agenda diplomatik, melainkan menjadi panggung diplomasi budaya yang mempererat hubungan antarmasyarakat kedua bangsa. (*)
