Kamis, Juni 25, 2026

Strategi Ogilvy Ubah Kreator Konten Jadi Pengusaha Ritel Global

Pilihan Editor

- Advertisement -
Klik untuk memutar ringkasan suara artikel ini.

Singapura (SAMUDERAKEPRI) – Ogilvy bekerja sama dengan TikTok Shop resmi meluncurkan Live-Fluence League, sebuah kompetisi live commerce pertama di jenisnya yang mempertemukan delapan penjual sosial (social sellers) terkemuka secara real-time. Melansir laporan dari rilis resmi Ogilvy Singapore, ajang inovatif yang memanfaatkan papan peringkat langsung (live leaderboard) terintegrasi ini diluncurkan perdana di Singapura sebagai pasar pertama di seluruh jaringan Ogilvy Asia Pasifik pada Kamis (25/6/2026).

Kompetisi ini bukan sekadar ajang unjuk gigi biasa, melainkan tonggak sejarah penting bagi ekosistem ekonomi kreator yang berkembang pesat. Di panggung ini, para pelaku industri, pemasar, media, dan kreator dapat menyaksikan langsung kekuatan penetrasi penjualan berbasis siaran langsung, lengkap dengan analisis strategi penjualan sosial yang dipandu oleh para pakar dari TikTok Shop.

Head of Influence Ogilvy Asia Pasifik, James Baldwin, menegaskan bahwa Live-Fluence League membuktikan bagaimana ekosistem creator commerce mampu berfungsi sebagai motor pertumbuhan bisnis baru sekaligus membuka peluang karier wirausaha bagi generasi muda. Langkah strategis ini menjadi bagian dari komitmen jangka panjang Ogilvy untuk mengadvokasi ekonomi kreator yang berkelanjutan dengan membekali mereka lewat pendidikan, peluang kerja, dan jaringan industri.

Melalui proposisi utama “Sales Overnight. Brand Over Time,” Ogilvy menekankan bahwa kesuksesan jangka panjang di era ini menuntut pendekatan taktis yang matang. Strategi tersebut memadukan potensi pendapatan instan dari live selling dengan pembangunan citra merek (brand building) yang konsisten guna memastikan keselarasan karakter kreator dengan visi korporasi secara menyeluruh.

Sebagai informasi, riset internal memproyeksikan ekosistem kreator akan menyumbang angka fantastis sebesar 1,2 triliun USD bagi perekonomian Asia Pasifik pada tahun 2030 mendatang. Ditambah dengan adanya krisis keaslian iklan tradisional—di mana tiga dari empat konsumen aktif menghindari iklan formal dan 90% lebih memilih konten kreator yang otentik sebelum membeli—maka social commerce telah bertransformasi menjadi salah satu saluran ritel dengan pertumbuhan tercepat yang menyumbang 1,6 triliun USD terhadap total industri e-commerce global. (*)

- Catatan Redaksi -Penerbitan laporan informasi ini tunduk pada koridor hukum Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Media Samudera Kepri menjamin dan melayani Hak Jawab serta Hak Koreksi secara proporsional bagi pihak-pihak yang merasa dirugikan oleh materi pemberitaan ini demi menegakkan akuntabilitas dan keterbukaan informasi publik.

Artikel lainnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

- Advertisement -spot_img

Artikel terbaru