📤 Bagikan Berita Ini:

⚡ Ringkasan 1 Menit

Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan Panglima Jilah di Istana Merdeka untuk membahas percepatan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat. Presiden Prabowo memberikan dukungan penuh dengan menerjunkan personel tambahan dan bantuan armada udara untuk mengatasi karhutla, yang telah berjalan selama sepekan terakhir. Pertemuan ini juga membahas peran masyarakat adat dalam menjaga ekosistem hutan dan menegaskan bahwa tradisi berladang masyarakat adat memiliki kearifan lokal tersendiri. Kolaborasi erat antara pemerintah pusat dan masyarakat adat Kalimantan dianggap penting dalam penanggulangan karhutla.

JAKARTA, SAMUDERAKEPRI — Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menerima kunjungan Panglima Jilah di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (28/8/2026). Pertemuan strategis tersebut membahas percepatan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat serta penguatan peran masyarakat adat dalam menjaga ekosistem hutan.

Panglima Jilah menyampaikan bahwa Presiden Prabowo memberikan dukungan penuh dengan menerjunkan personel tambahan dan bantuan armada udara untuk mengatasi Karhutla. Langkah penanganan lapangan tersebut bahkan telah berjalan selama sepekan terakhir.

“Kita membahas tentang karhutla. Tadi beliau membantu kita lewat personel untuk segera. Dan ini sudah dimulai, sudah sekitar satu minggu,” kata Panglima Jilah kepada awak media seusai pertemuan di Istana Merdeka.

Perhatian Pembangunan dan Klarifikasi Aktivitas Berladang

Selain percepatan penanganan karhutla, Panglima Jilah mengapresiasi perhatian Presiden Prabowo terhadap pemenuhan infrastruktur dan kesejahteraan masyarakat adat di Kalimantan Barat. Bantuan pemerintah mencakup pembangunan rumah adat, fasilitas sekolah, alokasi beasiswa, perbaikan jalan, rumah sakit, hingga dukungan kuota penerimaan TNI-Polri.

Dalam kesempatan itu, Panglima Jilah turut meluruskan stempel negatif yang sering dialamatkan kepada masyarakat peladang Dayak saat musim karhutla. Ia menegaskan bahwa tradisi berladang masyarakat adat memiliki kearifan lokal tersendiri dan tidak dilakukan di kawasan rentan.

“Ladang itu dengan perkebunan kadang-kadang bersamaan waktunya. Akhirnya peladang yang disalahkan. Tetapi sebenarnya orang berladang tidak di lahan gambut, melainkan di lahan mineral,” terangnya.

Masyarakat Adat Garda Terdepan Pengawasan Hutan

Panglima Jilah menegaskan bahwa kearifan berladang telah diwariskan secara turun-temurun jauh sebelum hadirnya industri perkebunan skala besar. Tokoh-tokoh adat secara rutin menggelar sosialisasi dan edukasi agar warga tidak membakar lahan secara sembarangan.

Sebagai pihak yang hidup berdampingan dengan alam, masyarakat adat memegang peran kunci dalam memantau dan memitigasi potensi timbulnya titik api di wilayahnya masing-masing.

“Masyarakat adat bersosialisasi lewat tokoh-tokoh adat agar tidak sembarangan membakar hutan karena masyarakat adat itu dekat dengan alam. Tentunya tidak ada alam, tidak ada masyarakat adat. Kita menjaga,” pungkasnya.

Pertemuan ini mempertegas pentingnya kolaborasi erat antara pemerintah pusat dan masyarakat adat Kalimantan. Penanggulangan karhutla dinilai memerlukan perpaduan antara kesiapan personel, teknologi penanganan, serta pemahaman kearifan lokal warga setempat. (*)

📤 Bagikan Berita Ini: