📤 Bagikan Berita Ini:

⚡ Ringkasan 1 Menit

Sekretaris Daerah Kota Batam, Firmansyah, mengingatkan pentingnya literasi keuangan bagi generasi muda, terutama mahasiswa, untuk menghindari risiko investasi yang tidak bijak. Menurut data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2026, 62,72% mahasiswa di Indonesia belum memiliki pemahaman yang memadai tentang keuangan digital. Firmansyah menekankan bahwa pemahaman yang baik tentang aset kripto, tokenisasi, dan stablecoin sangat krusial untuk menghindari kerugian dan membuat keputusan finansial yang bijak. Dengan demikian, pemerintah daerah dan perguruan tinggi diharapkan dapat bekerja sama untuk melahirkan talenta digital berkualitas yang dapat menciptakan inovasi dan membuka peluang ekonomi digital.

BATAM, SAMUDERAKEPRI — Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Batam, Firmansyah, mendorong generasi muda dan kalangan mahasiswa untuk tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, melainkan berani mengambil peran sebagai pencipta inovasi serta pelaku utama dalam rantai ekonomi digital.

Pesan strategis tersebut disampaikan Firmansyah saat mewakili Wali Kota Batam Amsakar Achmad dan Wakil Wali Kota Batam Li Claudia Chandra dalam pembukaan kegiatan Digital Financial Literacy (DFL) di Politeknik Negeri Batam (Polibatam), Senin (31/8/2026). Acara yang diinisiasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tersebut mengusung tema “Ekosistem ITSK, Pengenalan Kripto, RWA, dan Stablecoin”.

Dalam sambutannya, Sekda menegaskan bahwa pesatnya Inovasi Teknologi Sektor Keuangan (ITSK) telah mengubah lanskap transaksi, tata kelola aset, dan investasi masyarakat. Oleh karena itu, pemahaman mendalam terhadap instrumen digital seperti aset kripto, tokenisasi Real-World Assets (RWA), hingga stablecoin sangat krusial agar masyarakat terhindar dari kerugian.

“Jangan sampai karena fomo, kita mengambil keputusan finansial tanpa memahami fundamental aset, risiko investasi, keamanan platform, maupun legalitasnya,” pangkas Firmansyah.

Soroti Celah Literasi Keuangan Kelompok Pelajar

Mengutip data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2026, Firmansyah membeberkan adanya ketimpangan antara akses dan tingkat pemahaman keuangan digital di tingkat nasional. Pada kelompok pelajar dan mahasiswa, indeks inklusi keuangan telah mencapai 92,76 persen, tetapi indeks literasinya baru menyentuh angka 62,72 persen.

“Artinya, anak muda kita sudah semakin dekat dengan produk dan layanan keuangan, tetapi belum semuanya punya pemahaman yang memadai tentang bagaimana menggunakannya secara bijak,” jelasnya.

Kolaborasi Bangun Ekosistem Digital Berkelanjutan

Melihat posisi Batam yang strategis sebagai pusat perdagangan, industri, dan investasi, Sekda berharap perguruan tinggi dapat menjadi laboratorium lahirnya talenta digital berkualitas. Upaya ini membutuhkan sinergi erat antara pemerintah daerah, OJK, akademisi, dan pelaku industri.

“Batam tidak cukup hanya menjadi kota yang cepat mengikuti perkembangan teknologi. Batam harus mampu melahirkan generasi muda yang menciptakan inovasi, membuka peluang, dan mengambil peran dalam menentukan arah ekonomi digital,” pungkasnya. (*)

📤 Bagikan Berita Ini: