⚡ Ringkasan 1 Menit
Pertumbuhan ekonomi Kota Batam mencatatkan tren positif dengan PDRB mencapai Rp253,64 triliun pada 2025. Pendapatan Asli Daerah (PAD) Batam juga meningkat signifikan, dari Rp975 miliar pada 2020 menjadi Rp2,253 triliun pada 2025, atau naik sekitar 131 persen. Geliat investasi industri pengolahan juga berkontribusi pada peningkatan PAD, dengan realisasi investasi mencapai Rp69,3 triliun pada 2025. Peningkatan PAD ini kemudian digunakan untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik dan menghadapi tantangan tingkat pengangguran terbuka di Kota Batam.
BATAM, SAMUDERAKEPRI — Penguatan kapasitas fiskal daerah menjadi salah satu pilar vital dalam menjamin keberlanjutan pembangunan dan kualitas pelayanan publik. Hal tersebut menjadi fokus utama yang dipaparkan Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, saat membuka Seminar Rembug Fiskal Komisariat Wilayah (Komwil) I Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) 2026 di Harris Hotel & Suites Nagoya Batam, Kamis (27/8/2026).
Di hadapan sekitar 24 wali kota anggota APEKSI Komwil I se-Sumatera, Amsakar menegaskan bahwa indikator kemampuan fiskal daerah tidak sekadar diukur dari besarnya nominal APBD, melainkan dari sejauh mana keuangan daerah mampu menjawab kebutuhan fundamental masyarakat.
Lonjakan PAD dan Pertumbuhan Ekonomi Positif
Amsakar merincikan bahwa fondasi ekonomi Kota Batam mencatatkan tren sangat positif. Pertumbuhan ekonomi Batam pada 2025 berada pada angka 6,76 persen dengan PDRB mencapai Rp253,64 triliun. Sektor industri pengolahan masih mendominasi dengan kontribusi hingga 57 persen.
Kinerja investasi juga menunjukkan tren cemerlang. Realisasi investasi sepanjang 2025 berdasar pendekatan BP Batam mencapai Rp69,3 triliun, sementara hingga semester pertama 2026 nilainya sudah menyentuh Rp38,97 triliun.
Geliat investasi tersebut berbanding lurus dengan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Jika pada 2020 PAD Batam berada di kisaran Rp975 miliar, maka pada 2025 angka tersebut melonjak hingga Rp2,253 triliun atau naik sekitar 131 persen. Adapun hingga Juli 2026, realisasi PAD telah mencapai Rp1,482 triliun.
“Fiskal daerah itu harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat, baik infrastruktur, pendidikan, kesehatan, persampahan maupun persoalan banjir,” jelas Amsakar.
Sinergi Pemko-BP Batam dan Program Pro-Rakyat
Guna menghadapi tantangan tingkat pengangguran terbuka yang berada di angka 7,57 persen akibat tingginya arus migrasi, Pemko Batam memfokuskan program peningkatan kompetensi tenaga kerja lokal agar selaras dengan kebutuhan dunia industri modern, termasuk pengembangan pusat data (data center).
Selain itu, Amsakar menggarisbawahi pentingnya integrasi kebijakan dan pembiayaan antara Pemko Batam dan BP Batam untuk mencegah tumpang tindih program pembangunan.
Kekuatan fiskal tersebut secara konkret dikembalikan kepada masyarakat melalui berbagai program strategis, antara lain pembagian 105.670 set seragam sekolah gratis untuk siswa SD-SMP, perluasan cakupan Universal Health Coverage (UHC) hingga 98 persen, bantuan tunai bagi 4.000 lansia, pelatihan kompetensi bagi 4.433 tenaga kerja, hingga normalisasi drainase sepanjang 33 kilometer. (*)


