SINGAPORE – Agensi komunikasi kreatif global, Ogilvy, resmi merilis laporan riset regional perdana bertajuk APAC 2026 Believability Index: The Power of Proof. Laporan komprehensif yang digarap bersama lembaga riset YouGov ini membedah lanskap kompleks mengenai bagaimana konsumen di kawasan Asia-Pacific menentukan apa dan siapa yang layak mereka percayai di tengah banjir informasi digital.
Dilansir dari rilis pers resmi Ogilvy APAC melalui Media OutReach Newswire pada Kamis (2/7/2026), riset ini melibatkan 7.176 responden dewasa di tujuh pasar utama, yaitu Australia, Indonesia, Singapura, Malaysia, Filipina, Hong Kong, dan Tiongkok Daratan. Hasil studi mengungkap fakta mengejutkan mengenai besarnya kerugian finansial tersembunyi (hidden cost) akibat hilangnya kepercayaan konsumen.
Sebanyak 93% konsumen di wilayah Asia-Pasifik memilih untuk langsung meninggalkan atau menarik diri secara diam-diam (silent disengagement) ketika mereka kehilangan kepercayaan terhadap suatu jenama (brand) atau organisasi. Bahkan, hampir separuhnya (48%) memilih untuk langsung menghentikan aktivitas pembelian produk secara total.
Kompetensi Produk Lebih Utama daripada Narasi Korporat
Berdasarkan temuan utama Ogilvy Believability Index 2026, terdapat pergeseran cara pandang konsumen dalam menilai reputasi sebuah perusahaan:
- Ancaman Nyata dari Silent Disengagement: Mayoritas konsumen (93%) lebih memilih pergi tanpa suara dibanding melemparkan kritik terbuka di ruang publik. Hanya 10% dari total responden yang mau membagikan pengalaman buruk mereka di media sosial.
- Kompetensi di Atas Tujuan (Purpose): Sebanyak 42% konsumen di Asia-Pasifik berhenti berinteraksi dengan sebuah instansi karena produk atau layanan yang dibeli gagal memenuhi janji utamanya. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding 29% konsumen yang mundur akibat isu etika bisnis korporat. Hal ini menegaskan bahwa kualitas operasional yang nyata merupakan jangkar utama kredibilitas.
- Karakteristik Unik Lintas Pasar: Konsumen di Singapura dan Malaysia tercatat menaruh kepercayaan lebih tinggi pada otoritas institusional dan sumber resmi. Sebaliknya, konsumen di Australia dan Filipina jauh lebih memercayai testimoni serta pengalaman riil antarpengguna (lived experience).
- Tindakan Nyata Lebih Ampuh dari Permintaan Maaf: Walau 85% konsumen menyatakan kepercayaan yang hilang dapat dipulihkan, mereka menuntut adanya langkah koreksi operasional yang konkret. Sebanyak 57% responden menegaskan tindakan aktif menyelesaikan masalah jauh lebih krusial dibanding sekadar pernyataan maaf formal.
“Di era di mana konten buatan AI (AI slop) dan konten sintetis merevolusi lanskap komunikasi, kepercayaan bukan lagi sekadar tantangan humas (PR), melainkan kebutuhan komersial yang mendasar,” tegas Richard Brett, President Ogilvy PR APAC.
Luncurkan Agen AI ‘Believability Agent’ untuk Deteksi Celah Bisnis
Merespons ancaman hilangnya konsumen secara diam-diam, Ogilvy meluncurkan inovasi teknologi terbarunya yang dinamakan Believability Agent. Perangkat diagnostik berbasis kecerdasan buatan (predictive AI) skala perusahaan ini dibangun di atas arsitektur WPP Open.
Teknologi ini bekerja dengan memadukan basis data reputasi milik Ogilvy selama tujuh tahun terakhir dengan mesin kognitif ilmu perilaku (behavioral science cognitive engine). Alat ini dirancang untuk menganalisis “Say-Do Gap”—yaitu jarak antara janji pemasaran (marketing promises) yang diumbar perusahaan dengan realitas operasional di lapangan.
Melalui triangulasi pesan korporat terhadap sentimen riil pelanggan dan karyawan, Believability Agent mampu menghitung elastisitas kepercayaan (Believability Elasticity) suatu entitas bisnis. Integrasi platform AI pintar ini diharapkan dapat membantu jajaran eksekutif tingkat tinggi (C-Suite) untuk memprediksi serta mengantisipasi penyusutan jumlah pelanggan aktif sebelum berdampak langsung pada penurunan omzet pendapatan perusahaan. (*)


