BINTAN (SamudraKepri.co.id) – Upaya memperkokoh riset sejarah dan warisan tamadun Melayu serumpun terus bergulir. Tengku Zulkifli bin Tengku Haji Ibrahim, seorang pengusaha asal Melaka sekaligus investor di Pulau Bintan melalui PT Legacy Eis Group Indonesia, menyerahkan naskah kuno Silsilah Melayu kepada Institut Tun Perak Melaka.
Naskah berharga tersebut diterima langsung oleh Ketua Peneliti Institut Tun Perak Melaka, Taib bin Dora, untuk dijadikan bahan rujukan awal dalam memperluas kajian hubungan sejarah antara Melaka, Johor, Riau, Lingga, dan Bintan.
Tengku Zulkifli menyampaikan bahwa penyerahan naskah ini merupakan langkah nyata untuk mempertemukan sumber-sumber sejarah yang selama ini tersimpan di tengah masyarakat dengan institusi akademik yang memiliki kapasitas riset ilmiah.
Menurutnya, sejarah Melayu adalah warisan bersama yang melintasi batas-batas negara modern, sehingga perlu dikaji secara menyeluruh berdasarkan sumber primer yang masih eksis di Alam Melayu.
“Kita berharap dokumen-dokumen seperti silsilah, manuskrip lama, peta, hikayat, hingga tradisi lisan dapat dikumpulkan dan diteliti secara akademik. Langkah ini penting agar generasi mendatang memperoleh pemahaman yang jernih mengenai perjalanan sejarah bangsa Melayu,” ujar Tengku Zulkifli.
Menelusuri Jejak Sejarah Pasca-1511
Di sisi lain, Institut Tun Perak Melaka mengonfirmasi bahwa mereka tengah merancang riset sejarah mendalam mengenai kesinambungan pemerintahan Melayu setelah runtuhnya Melaka ke tangan Portugis pada tahun 1511 silam.
Ketua Peneliti Institut Tun Perak, Taib bin Dora, mengungkapkan bahwa kajian ini akan memberikan atensi besar pada berbagai sumber sejarah yang berkaitan dengan perkembangan pusat-pusat pemerintahan Melayu baru, termasuk wilayah Johor, Riau, Lingga, dan Bintan.
“Penyelidikan ini bertujuan menghimpun dan menilai sumber-sumber sejarah yang ada secara objektif dan akademik. Semua temuan akan diteliti mendalam berdasarkan manuskrip, dokumen, peta, catatan lokal, serta sumber lain yang relevan,” terang Taib bin Dora.
Riset ini nantinya akan menelusuri berbagai aspek krusial pasca-1511. Mulai dari dinamika perpindahan pusat pemerintahan, jaringan perdagangan maritim, perkembangan kebudayaan, hingga kesinambungan institusi Kesultanan Melayu di sepanjang kawasan Selat Melaka dan Kepulauan Riau.
Demi memperkaya data, Institut Tun Perak membuka pintu lebar untuk berkolaborasi dengan para peneliti, institusi pendidikan, badan warisan, hingga para kolektor benda sejarah di Malaysia maupun Indonesia.
Penyerahan naskah silsilah ini diharapkan menjadi titik awal lahirnya jaringan kerja sama riset yang lebih luas antara Melaka dan Bintan, sekaligus memperkuat pendokumentasian sejarah tamadun Melayu bagi generasi masa depan.
(SK/Red)


