Kamis, Agustus 13, 2026
- Advertisement -spot_img

Konfrontasi AS-Iran: Teheran Balas Serang Pangkalan di Bahrain dan Kuwait

Pilihan Editor

Redaksi
Redaksihttps://www.samuderakepri.co.id/
Ronny Paslan adalah seorang jurnalis investigasi senior, praktisi media, dan profesional teknologi digital pers yang berbasis di Tanjungpinang, Kepulauan Riau.Sebagai pendiri sekaligus Pemimpin Redaksi jaringan digital Media Samudera Kepri, beliau mendedikasikan rekam jejaknya pada penegakan transparansi anggaran publik, data-driven journalism, serta pengawalan aktif sengketa keterbukaan informasi di tingkat regional.Melalui pembentukan AJID, beliau berkomitmen membangun infrastruktur pers masa depan di Kepri yang memadukan ketajaman investigasi dengan inovasi digital mutakhir—termasuk arsitektur CMS berkinerja tinggi hingga tata kelola desentralisasi Web3—sambil memastikan perlindungan hukum dan kedaulatan penuh bagi setiap insan pers profesional.
- Advertisement -
🎧 Gelar Fakta Audio

TEHERAN – Eskalasi konflik bersenjata di Timur Tengah kian memanas setelah militer Iran melancarkan serangan balasan menggunakan rudal dan pesawat tak berawak (drone) ke wilayah Bahrain dan Kuwait.

Dilansir dari laporan langsung media internasional Al Jazeera pada Minggu (28/6/2026), aksi militer Teheran ini memicu sirene serangan udara di beberapa kota sekutu Amerika Serikat (AS) di kawasan Teluk, termasuk distrik Muharraq di Bahrain.

Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan bahwa operasi tersebut merupakan respons langsung atas agresi militer AS yang membombardir wilayah pesisir selatan Iran selama dua hari berturut-turut. Serangan udara Washington dilaporkan menghantam Pulau Qeshm, Sirik, dan Bandar-e Lengeh, menyusul insiden dugaan sabotase drone Iran terhadap sebuah kapal dagang internasional yang melintas di dekat Selat Hormuz.

“Jika musuh melanggar komitmen dan merusak nota kesepahaman gencatan senjata, kami dipastikan bakal membalas jauh lebih kuat dari sebelumnya,” tegas juru bicara IRGC, Hossein Mohebi, dalam siaran televisi pemerintah setempat.

Di tengah situasi yang genting, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, langsung bertolak ke Baghdad untuk menggelar konferensi pers bersama Pemerintah Irak. Araghchi menyerukan urgensi pembentukan kerangka kerja keamanan kolektif yang baru di antara negara-negara Teluk demi meredam gejolak regional tanpa adanya intervensi dari kekuatan militer asing di luar kawasan.

Sementara itu, dampak penutupan Selat Hormuz akibat status darurat perang kian mencekik perekonomian regional, di mana negara tetangga seperti Irak kini kehilangan potensi pendapatan dari jalur logistik minyak mentah global yang menjadi tumpuan utama devisa mereka. (*)

- Catatan Redaksi -Penerbitan laporan informasi ini tunduk pada koridor hukum Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Media Samudera Kepri menjamin dan melayani Hak Jawab serta Hak Koreksi secara proporsional bagi pihak-pihak yang merasa dirugikan oleh materi pemberitaan ini demi menegakkan akuntabilitas dan keterbukaan informasi publik.

Artikel lainnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Artikel terbaru