SHANGHAI — Di tengah dinamika disrupsi dan ketidakpastian arus perdagangan global, perusahaan-perusahaan di Tiongkok mulai menggeser fokus strategi pertumbuhan jangka panjang mereka. Berdasarkan data riset terbaru yang dirilis oleh Global Trade Observatory milik raksasa logistik DP World, korporasi Tiongkok kini berfokus penuh pada penguatan ketahanan rantai pasok (supply chain resilience), adopsi teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), serta penetrasi ke pasar-pasar internasional yang baru.
Dilansir dari rilis pers resmi DP World melalui Media OutReach Newswire pada Kamis (2/7/2026), survei internasional yang menjaring opini dari 292 eksekutif rantai pasok dan logistik di Tiongkok ini menunjukkan bahwa pelaku usaha kini tidak lagi hanya mengejar efisiensi biaya (cost) dan skala produksi semata. Mereka mulai beralih ke strategi yang mengutamakan diversifikasi sumber pasokan, kapabilitas digital, serta kemudahan fasilitas perdagangan praktis lintas batas.
Strategi Diversifikasi Rantai Pasok Tahun 2026
Ketika ditanya mengenai langkah taktis operasional yang direncanakan sepanjang tahun 2026, para eksekutif logistik Tiongkok memaparkan beberapa poin kebijakan prioritas utama:
- Diversifikasi Sourcing (58%): Mayoritas perusahaan berencana menambah jumlah mitra pemasok guna memitigasi risiko ketergantungan logistik.
- Near-shoring (38%): Mendekatkan fasilitas operasional atau pabrik ke pasar tujuan utama.
- Friend-shoring (36%): Memindahkan jalur pasokan ke negara-negara yang memiliki hubungan diplomatik dan kebijakan perdagangan yang sejalan.
- Peningkatan Inventaris (32%): Mempertebal volume stok cadangan barang di gudang untuk mengantisipasi kelangkaan mendadak.
Langkah-langkah tersebut diambil bukan semata-mata sebagai bentuk pertahanan pasif dari tarif dan hambatan dagang. Faktor pendorong kuat lainnya juga mencakup pemenuhan standar keberlanjutan ekonomi (ESG), pemanfaatan insentif kebijakan lokal, serta adopsi teknologi baru yang memungkinkan terjadinya kelincahan (agility) bisnis di pasar internasional.
Integrasi AI dan Cetak Biru Ekonomi “Two Sessions”
Aspek teknologi muncul sebagai pilar pertumbuhan paling krusial untuk jangka waktu satu hingga tiga tahun ke depan. Sebanyak 50% responden menegaskan komitmen mereka untuk menggelar teknologi AI, disusul 44% responden yang berfokus pada digitalisasi sistem secara meluas.
Selain itu, perluasan akses pasar dan konsumen baru menyumbang angka 43%, serta pembentukan rantai nilai baru (new value chains) sebesar 34%. Penekanan pada sektor AI dan digitalisasi terintegrasi ini selaras dengan peta jalan ekonomi yang dirumuskan dalam agenda tahunan “Two Sessions” Pemerintah Tiongkok, di mana pengembangan Kekuatan Produktif Kualitas Baru (New Quality Productive Forces) diposisikan sebagai jantung pembangunan ekonomi pintar nasional.
“Keunggulan perdagangan Tiongkok berikutnya akan lahir dari ketahanan dan kemampuan adaptasi, bukan sekadar skala produksi. Ambisi tersebut akan menghasilkan nilai komersial yang maksimal ketika perusahaan mampu mengoneksikan lapisan fisik dan digital perdagangan secara mulus—mulai dari pelabuhan, manajemen kepabeanan, pergudangan, hingga eksekusi logistik last-mile,” ujar Glen Hilton, CEO dan Managing Director DP World Asia Pasifik.
Sebagai korporasi global yang mengelola sekitar 10% arus perdagangan kontainer dunia, DP World terus memperkuat jaringan logistik end-to-end miliknya di Tiongkok untuk mendukung berbagai sektor industri strategis, mulai dari otomotif, e-commerce, teknologi, kesehatan, hingga produk mewah, guna memastikan arus perdagangan tetap mengalir lancar melintasi berbagai yurisdiksi perbatasan. (*)


