Bangkok (SAMUDERAKEPRI) – Di tengah ketegangan geopolitik yang merestrukturisasi perdagangan global, rantai pasok, dan arus investasi, reputasi jangka panjang Thailand sebagai mitra regional yang tepercaya dan netral dapat menjadi salah satu keunggulan kompetitif terkuatnya. Hal tersebut disampaikan oleh Profesor Terkemuka Andrew K. Rose, Dekan NUS Business School, saat berkunjung ke Bangkok, Thailand.
Dinukil dari rilis resmi Media OutReach Newswire pada Jumat (19/6/2026), Profesor Rose mengutarakan bahwa dalam kondisi dunia di mana keselarasan global bergeser dan rantai pasok digambar ulang, kepercayaan (trust) menjelma sebagai aset strategis. Fondasi hubungan kuat yang telah dibangun Thailand selama beberapa dekade di Asia dan sekitarnya menjadi jauh lebih berharga di periode penuh ketidakpastian ini.
Berdasarkan data World Economic Outlook dari Dana Moneter Internasional (IMF) edisi April 2026, pertumbuhan ekonomi Thailand diproyeksikan berada di angka 1.5 persen pada tahun 2026. Profesor Rose mencatat bahwa lonjakan biaya energi, pelemahan permintaan pariwisata jarak jauh, serta adopsi kecerdasan buatan (AI) yang cepat tengah menciptakan tekanan jangka pendek di berbagai sektor utama ekonomi Thailand. Kendati demikian, periode disrupsi ini dinilai membuka kondisi bagi reposisi kompetitif jangka panjang.
Dikutip dari laporan studi Milieu Insight tahun 2026 yang melibatkan 3.000 pekerja di enam pasar Asia Tenggara termasuk Thailand, ditemukan data bahwa 53 persen pekerja menempatkan ketergantungan berlebih pada AI sebagai kekhawatiran utama mereka, berada di atas risiko privasi dan perpindahan lapangan kerja. Hal ini mengisyaratkan bahwa organisasi di Thailand harus berbuat lebih banyak untuk mengarahkan, bukan sekadar menerapkan teknologi baru.
Menyikapi tantangan ini, Dosen Senior NUS Business School, Usa Skulkerewathana, menekankan bahwa organisasi-organisasi di Thailand harus fokus pada penguatan pengembangan talenta serta kesiapan AI secara praktis, daripada memperlakukan teknologi sebagai solusi mandiri. Ia menegaskan bahwa ini bukan momen untuk bersikap menunggu dan melihat (wait-and-see). Perusahaan Thailand yang berinvestasi lebih awal dalam kepemimpinan dan ketahanan tenaga kerja akan berada pada posisi yang lebih baik untuk bersaing di kancah regional maupun internasional. (*)



