Senin, Juni 22, 2026
More

    Temui CEO Rosatom, Presiden Prabowo Jajaki Pembangunan PLTN dan Teknologi Nuklir Apung Rusia

    Pilihan Editor

    Jakarta (SAMUDERAKEPRI) – Peta energi masa depan Indonesia bersiap memasuki babak baru yang revolusioner. Presiden RI Prabowo Subianto secara khusus menerima kunjungan Direktur Utama (CEO) Rosatom, Alexey Likhachev, di Jakarta untuk menggodok peluang kerja sama raksasa dalam pengembangan teknologi nuklir damai guna memperkuat ketahanan energi nasional berbasis energi baru terbarukan.

    Dinukil dari rilis resmi pertemuan tersebut, raksasa nuklir milik negara Rusia itu menyodorkan berbagai solusi mutakhir yang dirancang khusus sesuai lanskap geografis Indonesia. Opsi yang dipaparkan secara komprehensif di hadapan Presiden Prabowo meliputi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) skala besar, reaktor modular kecil (SMR), hingga teknologi PLTN terapung. Pihak Rusia juga memastikan komitmennya untuk mengutamakan keterlibatan industri serta SDM lokal di setiap fase proyek.

    “Kami siap menawarkan kepada Indonesia lokalisasi maksimum proses teknologi pada tahap konstruksi PLTN hingga tahap pemeliharaannya,” ujar Alexey Likhachev usai melakukan pertemuan penting tersebut.

    Berdasarkan data yang dihimpun, salah satu poin paling menarik yang menjadi primadona dalam diskusi adalah opsi pemanfaatan PLTN apung. Mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan dengan garis pantai yang panjang, teknologi pembangkit di atas platform terapung ini dinilai jauh lebih efisien, fleksibel, dan minim risiko untuk menjangkau daerah kepulauan serta pulau-pulau terpencil.

    Moskow menilai Jakarta sebenarnya telah memiliki modal dasar yang kuat untuk mengadopsi energi ini. Di luar keberadaan reaktor penelitian dan kemajuan bidang kedokteran nuklir dalam negeri, Indonesia juga tercatat memiliki banyak talenta muda profesional yang menempuh studi nuklir di Rusia.

    Dikutip dari laporan rencana strategis nasional, pemerintah menargetkan kapasitas PLTN sebesar 500 megawatt pada awal 2030-an. Target masif tersebut diproyeksikan melonjak ke angka 7-8 gigawatt pada 2040-an, hingga menyentuh 35-37 gigawatt pada tahun 2060-an. Guna merealisasikan target tersebut, Rosatom meyakinkan bahwa teknologi reaktor mereka adalah jawaban yang paling siap.

    “Hal itu berarti kita tak bisa melakukannya tanpa bantuan pembangkit besar berdaya 1.000 megawatt dan 1.200 megawatt. Kami tahu cara membangunnya dalam iklim dan sistem regulasi yang berbeda,” pungkas Likhachev menunjukkan optimismenya. (*)

    Artikel lainnya

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini

    Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

    - Advertisement -spot_img

    Artikel terbaru