JAKARTA – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah semakin menguras kantong Negeri Paman Sam. Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS), Pete Hegseth, resmi mengajukan tambahan anggaran militer sebesar US$200 miliar atau setara Rp3.387 triliun untuk membiayai operasi militer melawan Iran.
Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa konflik AS dan Iran berpotensi berlangsung jauh lebih lama dari estimasi awal yang hanya diprediksi memakan waktu 4 hingga 6 minggu.
Anggaran Perang AS: US$1 Miliar per Hari
Berdasarkan data terbaru, biaya perang melawan Iran diperkirakan menelan biaya sekitar US$1 miliar per hari. Anggaran fantastis yang diajukan Hegseth ini berada di luar dana rutin Departemen Pertahanan sebesar US$838,7 miliar yang telah disetujui Kongres awal tahun ini.
“Dibutuhkan pendanaan yang tepat untuk menumpas ancaman berbahaya,” ujar Hegseth dalam konferensi pers yang dikutip dari CNBC International, Jumat (20/3/2026).
Produksi Amunisi Ditingkatkan Besar-besaran
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa tambahan dana ini diperlukan untuk menjaga kesiapan tempur di level tertinggi. Ia mengungkapkan bahwa raksasa industri pertahanan seperti Lockheed Martin dan Raytheon kini telah memacu produksi amunisi ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Beberapa poin penting terkait kebijakan Trump saat ini:
- Tanpa Pasukan Darat: Hingga kini, Trump belum berencana mengirimkan pasukan darat ke wilayah Iran.
- Strategi Rahasia: Jika ada perubahan strategi militer, pemerintah tidak akan mengumumkannya secara terbuka demi faktor kejutan.
- Prioritas Keamanan: Fokus utama adalah memastikan keamanan rakyat Amerika tetap terjamin.
Respons Kongres dan Dampak Geopolitik
Ketua DPR AS, Mike Johnson, memberikan dukungan terhadap pengajuan dana jumbo tersebut. Menurutnya, angka US$200 miliar bukanlah angka sembarang, melainkan hasil perhitungan matang menghadapi masa-masa berbahaya bagi keamanan dunia.
Sebagai perbandingan, bantuan AS untuk Ukraina sejak Februari 2022 tercatat sebesar US$188 miliar. Artinya, anggaran untuk konflik Iran yang diajukan kali ini jauh lebih besar dalam durasi yang lebih singkat. (*)



