Bangkok (SAMUDERAKEPRI) – Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul resmi meluncurkan program “Thailand FastPass” di Gedung Pemerintah guna memobilisasi investasi strategis di sektor teknologi tinggi (high-tech) senilai lebih dari 21 miliar dolar AS atau sekitar 700 triliun baht. Langkah terobosan ini mengintegrasikan delapan lembaga pemerintah sekaligus untuk memangkas waktu pengurusan izin regulasi hingga 50 persen.
Dilansir dari Media OutReach Newswire pada Rabu (24/6/2026), program FastPass ini secara khusus membidik sektor-sektor bernilai tinggi, termasuk elektronik canggih, teknologi kedirgantaraan (aerospace), mesin presisi, sistem otomatisasi, serta plastik daur ulang.
Delapan instansi penting yang terlibat—termasuk Dewan Investasi Thailand (BOI), Departemen Pekerjaan Industri, Departemen Bea Cukai, hingga otoritas kelistrikan dan lingkungan hidup—telah menandatangani nota kesepahaman (MOU). Mereka berkomitmen memotong lini masa birokrasi antara 20 hingga 50 persen pada tonggak investasi utama, seperti izin pendirian pabrik, pengolahan kawasan bebas bea (free-zone), AMDAL (EIA), dan koneksi jaringan listrik.
“Dalam ekonomi global saat ini, kecepatan adalah pembeda kompetitif yang utama,” ujar PM Anutin Charnvirakul di hadapan lebih dari 300 diplomat asing dan eksekutif multinasional yang hadir. “Pemerintah Thailand tengah beralih dari regulator menjadi fasilitator bisnis aktif guna menciptakan lapangan kerja generasi baru dan mengamankan daya saing regional jangka panjang.”
Agresivitas Thailand dalam mengubah proyek yang disetujui menjadi pabrik fisik ini dipicu oleh lonjakan historis pengajuan investasi. BOI mencatat rekor permohonan investasi sebesar 54,5 miliar dolar AS pada tahun 2025, dan tren positif tersebut berlanjut ke kuartal pertama tahun 2026 yang sudah melampaui 30,3 miliar dolar AS.
Secara teknis, total dana 21 miliar dolar AS dalam program ini mencakup dua fase pengerjaan. Pada fase pertama, FastPass berhasil mengurai kemacetan regulasi untuk 76 proyek senilai 14,4 miliar dolar AS. Sementara pada upacara peluncuran fase kedua ini, terdapat 25 proyek dari 23 perusahaan senilai 6,7 miliar dolar AS yang resmi menerima sertifikat Thailand FastPass.
Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Keuangan Thailand, Ekniti Nitithanprapas, menambahkan bahwa 25 proyek percontohan di fase kedua ini diproyeksikan mampu menyerap lebih dari 13.000 tenaga kerja ahli. Mekanisme ini diharapkan dapat mengonversi modal korporasi menjadi keuntungan domestik, mulai dari mendorong pertumbuhan PDB berbasis investasi, transfer keahlian teknologi, hingga integrasi UMKM lokal ke dalam rantai pasok global.
Sejumlah korporasi global yang berpartisipasi, seperti Equatorial Space (pengembang kendaraan peluncur luar angkasa orbit bumi rendah) dan PureCycle Technologies asal AS, memuji efisiensi skema FastPass ini karena secara langsung menyederhanakan koordinasi negara dan meningkatkan efisiensi operasional mereka di kawasan Asia Tenggara. (*)



