BINTAN — Ikatan sejarah maritim antarnegara serumpun di Asia Tenggara kembali diperkuat lewat penuntasan sebuah proyek akademis berskala internasional. Penelitian sejarah kolaboratif yang melibatkan para sejarawan terkemuka dari Malaysia dan Indonesia mengenai jaringan pelabuhan di bawah naungan talasokrasi Kesultanan Malaka resmi dirampungkan di Pulau Bintan, Provinsi Kepulauan Riau.
Dilansir dari rilis resmi proyek riset maritim pada Selasa (30/6/2026), agenda ilmiah ini digagas oleh Institute Tun Perak Melaka (Malaysia). Dalam pelaksanaannya di lapangan, lembaga riset tersebut menjalin kerja sama strategis dengan Kedatuan Bintan serta Legacy Eis Group Indonesia. Selama masa observasi, tim gabungan lintas negara ini terjun langsung melakukan kajian lapangan, diskusi akademik terstruktur, telaah mendalam terhadap manuskrip kuno, analisis peta klasik, penelusuran sumber kolonial, hingga pembedahan berbagai referensi sejarah maritim Melayu.



Kegiatan sosialisasi kepada masyarakat Bintan Buyu dan Bukit Batu mengenai capaian riset maritim, yang turut menghadirkan mantan Ketua LAM Bintan, Musaffa Abbas, sebagai narasumber kunci dalam kajian lapangan sejarah Kesultanan Malaka. (Dok. Istimewa)
Rombongan tim peneliti internasional ini dipimpin langsung oleh Prof. Datuk Dr. Mohd Taib Hj. Dora dari Institute Tun Perak Melaka. Komposisi peneliti utama juga diperkuat oleh kehadiran tokoh penting seperti Prof. Dr. Muhammad bin Samsudin selaku Timbalan Persatuan Sejarawan Malaysia, serta Nuri Che Shiddiq, sejarawan Melayu asal Indonesia yang selama ini aktif meneliti rekam jejak peradaban maritim di kawasan Riau Islands. Dalam proses pengumpulan data di lapangan, Musaffa Abbas yang merupakan mantan Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Bintan turut memberikan sumbangsih besar sebagai narasumber kunci.



Mantan Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Bintan, Musaffa Abbas (dua dari kiri), saat memberikan sumbangsih data dan mendampingi tim sejarawan dua negara dalam kajian lapangan di Pulau Bintan. (Dok. Istimewa)
Seluruh hasil rekonstruksi sejarah ini dibukukan ke dalam sebuah laporan ilmiah komprehensif berjudul “Pelabuhan Al Malikah: Pelabuhan Ratu di Bawah Kekuasaan Kesultanan Malaka”. Buku hasil penelitian tersebut memaparkan secara detail mengenai struktur jaringan pelabuhan kuno yang masuk dalam konstelasi maritim Malaka, sekaligus menegaskan peran strategis Pulau Bintan sebagai salah satu pilar utama jalur perdagangan dan pelayaran di Selat Malaka pada masa lampau.
“Kami berharap penelitian ini menjadi salah satu kontribusi penting bagi pengembangan historiografi maritim Melayu dengan menggabungkan perspektif akademisi dari Malaysia dan Indonesia,” ujar perwakilan tim peneliti dalam laporan resminya.
Penutupan agenda riset ditandai dengan penyerahan naskah laporan final secara simbolis serta sesi sosialisasi kepada masyarakat di kawasan Bintan Buyubukit batu mengenai capaian dan tujuan penelitian. Penutupan ini menjadi tonggak baru yang diharapkan mampu memberikan manfaat luas bagi pengembangan ilmu sejarah, pelestarian warisan kebudayaan Melayu, sekaligus menjadi rujukan sahih bagi riset lanjutan mengenai jaringan politik maritim di Asia Tenggara. (*)


