SAMUDERAKEPRI, OMAN – Situasi di Selat Hormuz kembali memanas setelah sebuah kapal tanker dilaporkan terbakar akibat dihantam proyektil tak dikenal pada Senin (6/7/2026) malam. Insiden ini terjadi di tengah berlangsungnya proses perundingan perdamaian yang sensitif antara Amerika Serikat dan Iran.
United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan, serangan tersebut menimpa sebuah kapal tanker saat melintas sekitar 8 mil laut dari pantai Limah, Oman. Meskipun tidak ada korban jiwa, laporan media menyebutkan dua kapal komersial mengalami kerusakan signifikan akibat serangan rudal yang diduga dilancarkan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pihak CENTCOM AS maupun IRGC terkait insiden tersebut. Namun, insiden ini menambah keraguan operator pelayaran global untuk melintasi jalur vital bagi 20 persen pasokan minyak dunia tersebut, meski sebelumnya telah ada nota kesepahaman (MoU) untuk membuka akses pelayaran selama 60 hari.
Pengamat politik, Mohsen Milani, menilai Iran masih memanfaatkan posisi geografis Selat Hormuz sebagai instrumen daya tawar dalam negosiasi. “Iran berupaya mengubah kedaulatan atas separuh selat tersebut menjadi pengaruh yang langgeng, sementara Washington bersikukuh pada prinsip kebebasan navigasi,” jelasnya.
Di sisi lain, ancaman dari Presiden AS Donald Trump yang menyatakan kesiapan untuk “menyelesaikan pekerjaan” jika kesepakatan tidak tercapai, dibalas dengan teguran keras oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Araghchi menegaskan bahwa negosiasi kesepakatan akhir tidak akan dimulai selama ancaman masih terus dilontarkan oleh pihak AS.
Ketidakpastian hukum mengenai ketentuan selat dan isu keamanan regional lainnya kini membuat masa depan perjanjian damai tersebut berada di ujung tanduk. (*)




