HANOI — Delegasi muda asal Singapura sukses mengukuhkan diri sebagai yang terbaik dalam ajang kompetisi teknologi lingkungan tingkat regional. Team Helios, yang beranggotakan dua mahasiswa dari Nanyang Technological University (NTU) Singapura, resmi dinobatkan sebagai juara pertama dalam perhelatan Asian Hackathon for Green Future 2026 di Hanoi, Vietnam.
Dilansir dari rilis pers resmi Vingroup melalui Media OutReach Newswire pada Senin (6/7/2026), kompetisi ini diikuti oleh 439 tim dengan total hampir 1.500 peserta yang datang dari 22 negara dan wilayah. Ajang bergengsi ini diorganisasi bersama oleh tiga entitas nirlaba di bawah naungan Vingroup, yakni “For Green Future” Foundation, VinUniversity, dan Vingroup Young Technology Talent Club (VinTechTalent). Gelaran ini mencatatkan sejarah sebagai kompetisi hackathon lingkungan pan-Asia pertama di Vietnam yang dikhususkan bagi mahasiswa tingkat sarjana (S1) dan magister (S2).
Solusi Kota Rendah Karbon Berhadiah USD 8.000
Lewat proyek inovatif bertajuk “An Urban Simulation Platform for Low-Carbon Infrastructure”, Team Helios yang digawangi oleh Pratham Ranjan dan Alok Vernekar berhasil membawa pulang hadiah utama sebesar USD 8.000. Inovasi yang mereka ciptakan menjawab tantangan krusial tata kota modern: menguji efektivitas proyek infrastruktur hijau sebelum anggaran besar digelontorkan.
Mereka berhasil membangun platform simulasi perkotaan tingkat distrik. Sistem ini memungkinkan pemerintah kota melakukan uji coba digital terhadap berbagai fasilitas, mulai dari stasiun pengisian daya kendaraan listrik (EV), transportasi publik, jaringan energi surya, hingga infrastruktur tahan iklim. Lewat simulasi tersebut, dampak terhadap perilaku mobilitas warga, tingkat emisi, kalkulasi biaya, hingga kestabilan jaringan listrik dapat diprediksi secara akurat guna menghindari pemborosan anggaran pada proyek yang tidak efektif.
Vietnam Dominasi Juara Dua dan Tiga
Sementara itu, posisi Juara Kedua diraih oleh Team VFluxion dari University of Information Technology, Vietnam National University Ho Chi Minh City. Membawa pulang hadiah sebesar USD 5,000, mereka menawarkan platform koordinasi pengisian daya dua arah bagi kendaraan listrik agar dapat berfungsi sebagai penyimpan energi cadangan untuk menstabilkan beban permintaan listrik kota.
Adapun posisi Juara Ketiga dimenangkan oleh dua tim sekaligus asal Vietnam yang masing-masing mengantongi hadiah USD 3.000:
- Team Future Greener (University of Economics Ho Chi Minh City & FPT University): Menciptakan platform pelacak siklus hidup dan kesehatan baterai kendaraan listrik demi memfasilitasi proses daur ulang yang aman guna mendukung ekosistem ekonomi sirkular.
- Team ALT F4 (University of Science, Vietnam National University Hanoi, BUV, & Hanoi University of Science and Technology): Mengembangkan sistem peringatan dini intrusi air asin di kawasan muara sungai. Sistem ini mampu memprediksi risiko 24 hingga 72 jam lebih awal dan mengirimkan notifikasi langsung ke ponsel petani lokal agar mereka dapat menyelamatkan pasokan air tawar dan meminimalkan gagal panen.
Lima hadiah hiburan (Consolation Prizes) masing-masing senilai USD 1.000 juga diberikan kepada lima tim lintas negara, yaitu Project Gaia (Vietnam), AVERTIX (India), ReRootSG (Singapura), Forust (Hong Kong), dan Seekers (India).
Maraton 36 Jam dan Ambisi Regional Hub 2027
Sebelum mengamankan posisi di babak final, 30 tim terbaik telah melewati proses penyaringan ketat dan pelatihan daring selama hampir tiga bulan bersama para pakar multidisiplin. Di fase puncak yang digelar di kampus VinUniversity pada 4 Juli 2026, para finalis ditantang dalam aksi marathon hackathon intensif selama 36 jam nonsetop untuk mematangkan purwarupa (prototype) fungsional mereka di bawah bimbingan mentor teknologi Vingroup.
Direktur Pelaksana “For Green Future” Foundation Vingroup, Dr. Thai-Ha Le, menyatakan kebanggaannya atas tingginya antusiasme talenta muda Asia. Menurutnya, ajang ini membuktikan bahwa Vietnam siap menjadi pusat inkubasi regional bagi inovasi pembangunan berkelanjutan di Asia, di mana ide-ide lintas batas dapat diuji dan ditransformasikan menjadi solusi nyata bagi masyarakat global.
Melihat kesuksesan edisi perdana ini, pihak panitia memastikan bahwa kompetisi Asian Hackathon for Green Future akan kembali digelar untuk musim kedua pada tahun 2027 mendatang dengan skala jangkauan geografis yang jauh lebih luas. (*)




