Tanjungpinang (SAMUDERAKEPRI) – Organisasi jejaring jurnalisme lingkungan global, Earth Journalism Network (EJN) dari Internews, resmi membuka program beasiswa pelaporan (reporting grants) bertajuk “Story Grants to Report on Asia’s Endangered Apes”. Program ini ditujukan untuk mendukung produksi liputan media mendalam mengenai ancaman yang dihadapi kera (baik di alam liar maupun penangkaran), serta strategi konservasi untuk melindungi spesies beserta habitatnya di Asia.
Dilansir dari pengumuman resmi Internews EJN tertanggal 18 Juni 2026, batas waktu pengiriman aplikasi pendaftaran ditetapkan hingga 19 Juli 2026 pukul 23.59 WITA (Waktu Indonesia Tengah). Peluang ini terbuka bagi jurnalis yang berasal dari sembilan negara habitat asli (range countries) kera jenis owa (gibbon) dan/atau orangutan di Asia, yaitu Indonesia, Kamboja, Tiongkok, India, Laos, Malaysia, Myanmar, Thailand, dan Vietnam.
Berdasarkan data teknis operasional program, penyelenggara dengan dukungan dana dari Arcus Foundation akan mengucurkan hingga 10 paket hibah cerita dengan nilai pendanaan masing-masing mencapai US$1.500 (Dolar AS). Dana hibah ini diproyeksikan mulai disalurkan pada bulan Juni, dengan target seluruh artikel atau produk jurnalistik hasil liputan wajib diterbitkan paling lambat tanggal 31 Januari 2027.
Dikutip dari kriteria kelayakan peserta, pendaftaran terbuka bagi jurnalis dari segala lini media (daring, cetak, televisi, radio) serta praktisi media lain yang memiliki rekam jejak atau pengalaman dalam meliput isu-isu konservasi. Program ini menerima aplikasi baik dari jurnalis lepas (freelance) maupun staf tetap dari berbagai jenis organisasi media, mulai dari skala komunitas, lokal, nasional, hingga internasional. Pihak penyelenggara juga memberikan dorongan kepesertaan bagi jurnalis perempuan, jurnalis dari daerah pedesaan, jurnalis adat, serta jurnalis pemula (early-career).
Terkait prosedur administrasi, seluruh draf proposal awal ke platform pendaftaran wajib ditulis dan diajukan dalam Bahasa Inggris. Namun, karya jurnalistik akhir nantinya diperbolehkan terbit menggunakan bahasa lokal (termasuk Bahasa Indonesia), dengan catatan pendaftar wajib menyertakan dokumen terjemahan bahasa Inggris dan diperkenankan memasukkan estimasi biaya alokasi penerjemah ke dalam rancangan anggaran liputan.
Pihak EJN juga memberlakukan regulasi ketat terkait aspek etika profesional. Setiap pelamar diwajibkan bersikap transparan mengenai penggunaan alat bantu kecerdasan buatan (generative AI) jika memanfaatkannya untuk merevisi proposal. EJN menegaskan hak penuh untuk mendiskualifikasi pendaftar yang terbukti melakukan pelanggaran etika, termasuk menyerahkan konten hasil produksi penuh kecerdasan buatan sebagai karya orisinal mereka.
Sebagai catatan khusus, untuk peluang hibah kali ini, EJN tidak dapat menerima surat dukungan (letter of support) yang diterbitkan oleh media Mongabay karena media tersebut telah menjadi penerima manfaat langsung dari Arcus Foundation. Dokumen wajib yang harus disiapkan pelamar saat mendaftar daring meliputi draf anggaran Excel terperinci, dua contoh tautan karya jurnalistik sebelumnya, serta surat dukungan resmi yang ditandatangani oleh editor media terkait yang berkomitmen menayangkan hasil liputan sebelum akhir Januari 2027. (*)



