HONG KONG – Progres signifikan dicatatkan oleh Pelabuhan Perdagangan Bebas (Free Trade Port/FTP) Hainan setelah genap enam bulan mengimplementasikan operasi kepabeanan khusus secara penuh. Guna memperluas integrasi pasar global, delegasi Provinsi Hainan melakukan kunjungan kerja strategis ke Hong Kong untuk menyosialisasikan kebijakan teranyar sekaligus menyepakati sejumlah kerja sama investasi berskala besar.
Dilansir dari rilis resmi China Council for the Promotion of International Trade Hainan Provincial Committee (CCPIT Hainan) melalui Media OutReach Newswire pada Senin (29/6/2026), kinerja perdagangan luar negeri Hainan mengalami lonjakan sangat tajam sejak sistem pabean khusus tersebut resmi diberlakukan. Berdasarkan data per 17 Juni, total nilai ekspor dan impor komoditas barang di provinsi tersebut sukses menembus angka RMB 173,98 miliar (setara Rp392,3 triliun atau kisaran US$24 miliar), atau meroket sebesar 54,6% secara tahunan (year-on-year).
Sektor hilir perdagangan komoditas bebas bea juga mencatatkan rapor impresif. Nilai impor barang dengan skema “nol-tarif” (zero-tariff) menyentuh angka RMB 2,645 miliar, melonjak drastis sebesar 120% sekaligus menghasilkan penghematan tarif bea masuk bagi pelaku usaha sebesar RMB 440 juta. Kebijakan insentif fiskal ini berhasil menarik minat investor dengan terdaftarnya 172.100 entitas pasar baru (tumbuh 61%), yang di dalamnya mencakup 1.240 perusahaan bermodal asing. Hingga saat ini, jenis barang yang masuk ke dalam kategori bebas bea telah mencakup 74% dari seluruh lini tarif yang berlaku.
Dalam kunjungan tiga hari di Hong Kong tersebut, CCPIT Hainan menandatangani nota kesepahaman (MOU) kerja sama mendalam dengan Kamar Dagang Umum Tionghoa Hong Kong (Chinese General Chamber of Commerce, Hong Kong) serta Kamar Dagang Umum Hong Kong (Hong Kong General Chamber of Commerce).
“Melalui kemitraan ini, para pihak sepakat membangun mekanisme penghubung rutin guna memfasilitasi pertukaran informasi ekonomi secara berkala, serta memperkuat kolaborasi di sektor jasa profesional, keuangan hijau (green finance), ekonomi digital, manajemen rantai pasok (supply chain), hingga sektor pariwisata budaya,” tulis pernyataan resmi komite.
Di samping itu, kedua belah pihak akan mendirikan pos layanan bersama bagi korporasi (mutual enterprise service desks). Layanan konsultasi ini dibentuk untuk mengoptimalkan keunggulan kompetitif kedua wilayah: membantu korporasi Tiongkok daratan melakukan ekspansi pasar internasional via Hong Kong, sekaligus mempermudah korporasi asal Hong Kong masuk ke pasar domestik Tiongkok melalui pintu gerbang logistik Hainan. (*)


