
GLOBAL, SAMUDERAKEPRI.CO.ID – Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, secara terbuka menyatakan kesiapannya untuk berdiri di belakang Iran pasca-serangan udara gabungan yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke wilayah Teheran. Pernyataan keras ini menjadi sinyalemen menguatnya poros pertahanan antara Pyongyang dan Teheran.
Berdasarkan laporan mendalam yang dirilis oleh The Diplomat pada Selasa (3/3/2026), Kim Jong-un menegaskan bahwa negaranya tidak akan tinggal diam melihat mitra strategisnya ditekan secara militer. Dalam sebuah peringatan yang tajam, ia mengklaim bahwa kekuatan rudal Korea Utara saat ini lebih dari cukup untuk memberikan pukulan telak yang mematikan bagi Israel.
“Cukup satu rudal saja untuk melenyapkan Israel jika Iran memang memintanya,” ungkap laporan tersebut mengutip analisis respons Pyongyang terhadap eskalasi di Timur Tengah.
Reaksi Kilat Pyongyang Laporan tertanggal 3 Maret itu juga menyoroti betapa cepatnya reaksi Korea Utara. Hanya dalam hitungan jam setelah serangan gabungan AS-Israel dimulai pada akhir Februari lalu, Kementerian Luar Negeri Korea Utara langsung mengeluarkan kecaman resmi.
Para analis di The Diplomat menilai bahwa langkah ini menunjukkan Korea Utara memandang serangan tersebut bukan sekadar konflik regional, melainkan ancaman sistematis terhadap kedaulatan negara-negara yang berseberangan dengan blok Barat.
Perubahan Arah Diplomasi Menariknya, sikap agresif ini muncul tepat setelah sempat adanya kabar burung mengenai kemungkinan dialog antara Pyongyang dan Washington. Namun, serangan ke Iran tampaknya telah menutup pintu negosiasi tersebut, mengubah nada bicara Kim Jong-un menjadi jauh lebih konfrontatif.
Korea Utara kini secara terbuka memposisikan diri sebagai pemasok teknologi militer utama bagi Iran guna menyeimbangkan kekuatan di kawasan tersebut. (*)
Catatan Redaksi:
Redaksi Samuderakepri.co.id memandang eskalasi pernyataan dari Korea Utara ini sebagai peringatan serius bagi stabilitas keamanan global. Keterlibatan aktif Pyongyang dalam konflik di Timur Tengah, meski baru dalam tataran retorika dan dukungan teknologi, berpotensi memicu perlombaan senjata yang lebih berbahaya. Kami akan terus memantau perkembangan situasi ini secara objektif dari berbagai sumber internasional terpercaya untuk memastikan pembaca mendapatkan informasi yang akurat di tengah memanasnya peta geopolitik dunia.









